Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 5)

adminYang Nulis Si ALvin ALvyo

6 Days Before 'Deadline'


Beberapa menit ia membiarkan keheningan menemaninya. Saat-saat seperti itu, adalah saat-saat yang paling dinikmati oleh Dio.

Ketika di mana pikirannya bisa berjalan lebih lancar. Ia termenung menatap rintik yang masih belum juga reda di luar rumah.
Terkadang, pemikiran tentang adanya suatu kata `dosa' bisa membuatnya terpekur seperti itu. Tapi seperti kebiasaan yang sudah melaju dalam darahnya.

Tiada kata menyesal! Senyum itu muncul saat ia mematikan puntung rokok di jemarinya. 

"Gadis, kasihan sekali," bisiknya, lalu bangkit berdiri.
Wanita memang bagaikan roman picisan. Tak ada yang menarik selain sentuhan, kehangatan dan kelembutan bibir. 

Selain itu, semua bisa didapat di mana-mana. Bahkan di emper toko sekalipun. 
Intermezzo.
Sesuatu yang melintas di jalan sepi, untuk kemudian menghilang-muncul lagi dalam sosok yang berbeda.
Sekarang, ia akan mengakhirinya. 

Kejam? Ataukah baik-baik?
Semua itu tergantung pada dirinya sekarang. 

Beberapa orang suka membahas tentang `cara bermain layang-layang'. Cara yang digunakan orang-orang untuk mempertahankan sesuatu yang menyenangkan, yang dipastikan akan tetap ada saat diperlukan.
Bukannya Dio tidak memikirkan tentang hal itu. Tapi menurutnya, biarlah kali ini lepas semuanya, tersapu bersih. Ia tak ingin diganggu nanti. 

Tidak oleh Rosa.

Menabur benih cinta, sebuah perkara yang mudah.
Menyemainya, jauh lebih mudah.
Pria terjahat di dunia itu sudah siap kini.
Menghancurkan impian, itu misinya.
Satu seduhan di cangkir kopi, Dio meraih kunci mobil.
Pikirannya hanya satu, yaitu tentang kebekuan yang sudah dipeliharanya lama lalu. Yang harus keluar sekarang. Sudah tiba masanya.
Sekali lagi berkelebat pertanyaan: Kejam? Ataukah baik-baik?
Menelusuri jalanan, Dio memikirkan banyak hal.
Sebetulnya Rosa bukanlah seorang gadis yang tak masuk dalam hitungannya.
Gadis itu cantik, baik, dan punya segudang kelebihan dibanding gadis-gadisnya yang lalu.
Tapi seperti kata orang-orang, jika ingin mengerjakan sesuatu, jangan campurkan dengan kesenangan.

Di sebuah tikungan,Dio berhenti. Menekan beberapa tombol di handphone. Sebuah sapaan bernada girang terdengar dari seberang.
"Halo, Dio."
"Hai," sahut Dio.
"Ada apa? Katanya kamu banyak kerjaan hari ini?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu. Itu saja."
"Lewat telepon?"
"Seandainya bisa."
Suara tawa terdengar dari seberang. Lama setelahnya, hening.

"Ya kamu ke sini saja."
Dio tersenyum.
"Tidak terlalu malam untukmu? Nanti kalau ketahuan..."
"Tidak. Ke sini saja, aku akan menemuimu di luar."
Dalam perjalanan menuju Asrama Putri, Dio merasa sedikit bingung. Ia memang terkadang terlalu mendadak dalam mengambil keputusan. Seperti yang baru saja ia lakukan. 

Untuk apa ia malam-malam datang ke Asrama Puteri? 
Hanya untuk menemui Rosa? 
Omong kosong, pikirnya. 

Lalu? 
Lalu aku hanya akan membuktikan bahwa ia bukan apa-apa, ucap Dio, masih dalam hati.
Dengan tersenyum penuh percaya diri, Dio membiarkan konsentrasinya kembali ke jalan raya.
Rosa sudah menunggunya di depan pagar, saat ia tiba. 

Dio menurunkan jendela mobil, lalu tersenyum dan berkata,
"Aku tidak ingin tahu caramu keluar."
Gadis itu tertawa. 

Dio mengeluh dalam hati, gadis itu cantik sekali.
Satu lambaian tangan kemudian, Rosa sudah membuka pintu mobil dan masuk.
Dio tertawa kecil saat melihat gadis itu hanya duduk diam.
Pandangan gadis itu seolah mengatakan bahwa ia menunggu pelukanku.
Tanpa berkata apa-apa, Dio memiringkan tubuhnya dan memeluk gadis di sebelahnya.
Satu kecupan mesra di bibir, lalu Dio merebahkan kepalanya di pangkuan si gadis.
Rosa membelai rambut pemuda itu dengan lembut. 

"Ada apa kamu? Kok jadi melankolis begini?"
"Tidak apa-apa," bisik si pemuda, "aku hanya ingin dipeluk."
"Manja."
"Memang, inilah aku."
Rosa tertawa kecil, sebelum membungkuk dan mengecup daun telinga Dio. 

"Aku sudah menduganya. Bermanjalah, kapanpun kamu mau."
Dio tersenyum, lalu menutup matanya.
Sesuatu yang tak pernah ia pungkiri, adalah ia suka saat-saat kepalanya berada dalam pangkuan seorang wanita. Pangkuan itu lebih bisa membangkitkan nyamannya dibanding kasur dan bantal yang empuk.
Penyakit lama. 
Mother complex. Dibawa kemana-mana. 

Menit-menit berlalu, tanpa terasa. Rosa tersenyum saat merasakan pemuda itu sudah terlelap. Nafasnya menghembus perlahan. Si gadis menyibakkan rambut yang menutupi samping wajah Dio. 

Mengamati beberapa lama, Rosa terenyuh. Di sudut mata pemuda itu, ia bisa melihat kerutan-kerutan. Wajah yang ada di pangkuannya itu, tidak seperti wajah yang biasa dilihatnya selama ia mengenal pemuda itu.
Wajah ini sungguh jauh dari apa yang namanya bahagia. 
Rosa percaya, bahwa saat seseorang tertidur, itulah saat-saat di mana orang lain bisa melihat apa di balik semua cerita tentangnya. 

Dan mengingat hal itu, membuat Rosa berbisik lirih.
"Siapakah kamu sebenarnya?"
Seolah mendengar, tubuh Dio bergerak. Kedua ujung bibirnya tertarik. Pemuda itu sedang tersenyum. Rosa menghela nafasnya dalam-dalam.
Gadis itu meletakkan sebelah tangannya yang bebas ke bahu Dio, lalu menyandarkan tubuhnya. 
Rosa memejamkan mata. Menikmati kebersamaan itu.
Aku terlalu banyak menduga-duga, pikir gadis itu kemudian.
Dio adalah Dio, yang sekarang berbaring di pangkuanku. Lain tidak.
Aku percaya padanya.

Dio terbangun lama kemudian. 
Menggeliat. 
Tidur yang nyaman, setelah beberapa hari kesibukan menyita waktunya untuk tetap terjaga. 
Pemuda itu menoleh dan melihat wajah Rosa dan senyum gadis itu di atasnya.
Ia merasakan kehangatan dari gadis itu! 
Matanya menatap mata gadis itu sekarang, mencari perasaan itu. Ia menemukannya.
"Kamu kenapa?" tanya Rosa setengah berbisik.
Dio menggelengkan kepala. "Tidak," katanya, "kamu begitu istimewa." 

"Istimewa?" tanya Rosa ingin tahu.
"Ya," lanjut Dio, "jarang ada gadis yang bisa membuatku hangat."
Rosa tertawa kecil.
"Kamu itu ada-ada saja," katanya, tapi mau tak mau wajahnya memerah, malu bercampur bangga.
Dio bangkit dari pangkuan si gadis. Beberapa saat lamanya ia memandangi mata Rosa, membuat gadis itu merasa rikuh.
"Pandanganmu," bisik gadis itu, saat ia tak tahan lagi. 
Dio tertawa. Pemuda itu mendekatkan bibirnya ke telinga si gadis.
Satu kecupan di pipi, Dio berbisik, "Kalau aku mengajakmu untuk bercinta. Kamu mau?"
Rosa menoleh tanpa sadar. 
Wajah mereka benar-benar dekat kali ini. 
Gadis itu terdiam, tak tahu harus mengatakan apa.
Dio tak pernah berkata demikian-diluar guyonannya yang memang terkadang menyiratkan keinginan untuk itu.
Selama ini Rosa beranggapan Dio hanya bercanda. 
Tapi saat itu, ia melihat satu keseriusan di mata si pemuda.
" Dio, aku....."
"Ssshh," Dio berbisik.
Bibirnya meraih bibir si gadis. Lama. 
Waktu seolah berhenti. 

Rosa mengernyitkan alisnya. Kali ini berbeda. 
Ada sesuatu yang lain dalam kecupan itu. Sesuatu yang memaksanya untuk menyerah.
Gadis itu terengah saat Dio melepaskan bibirnya. 
Dio menggeser wajahnya, menempelkan pipinya ke pipi si gadis, menghembuskan nafasnya halus, memastikan gadis itu merasakan getaran-getaran penggoda.
"Apa itu tadi, yo?" bisik Rosa lirih.
"Itu," desah Dio di telinga si gadis,
"namanya kehangatan. Keinginan. Hasratku."
Rosa memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti, angannya terbuai. 
Terlena. 

"Besok datang ke rumah?" desis Dio kemudian.
Tak ada jawaban.
Tak ada gerakan. 

Rosa mengeluh dalam hatinya. Ia benar-benar kebingungan kini. Gadis itu merintih dalam hati.
Hasratnya bergejolak.
Satu anggukan kecil terjadi kemudian.
Tak bisa dilihat Rosa, Dio membuka mata dan tersenyum.
Gotcha!! 
Kehangatan yang kauberikan untukku akan membuatmu jatuh.

"Sekarang," bisik Dio, lalu tiba-tiba menarik tubuhnya mundur.
"Sekarang?" Rosa bertanya, Jantungnya berdegup kencang.
Apa maksudnya? 
Dalam debar jantungnya, gadis itu melihat pemuda di sampingnya membungkuk, lalu meraih-raih sesuatu.
Sesaat kemudian, kaki pemuda itu sudah berada di atas kursi.
Rosa tergelak tanpa bisa ditahan. 

"Aduh," gerutu Dio, "sori jempolku..."
"Aku tahu," potong Rosa, "jempolmu lagi nafsu, kan?" 

Dio mengangkat kepalanya, memandang dengan wajah bodoh. 
Mereka berdua lalu tertawa.

Segala rasa kikuk menghilang, berganti dengan kemesraan.
Rosa masih menyimpan debaran itu di dadanya. 

Dio pulang beberapa saat kemudian tanpa menyinggung tentang ajakan itu lagi.

Sebentar lagi.. waktunya sudah tiba....
Bagaimana dengan Si kunyuk Tio itu ya..
hmm...

Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 1) -BACK
Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 2)-BACK
Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 3) - BACK
Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 4) - BACK
Jika sobat merasa artikel Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 5) ini bermanfaat, silahkan Copas artikel ini, tetapi jangan lupa untuk mencantumkan link sumbernya seperti ini : Source:http://alvinarea.blogspot.com/2011/07/bermain-api-atau-api-yang-bermain_12.html.Saya lebih berterimakasih lagi jika sobat mau mencantumkan link hidup seperti ini : Source: http://alvinarea.blogspot.com/2011/07/bermain-api-atau-api-yang-bermain_12.html.Mohon dimengerti agar maraknya copas tanpa link sumber mereda, terima kasih.

Artikel Menarik Lain!

0 komentar

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Silahkan berkomentar apa saja yang terkait pada artikel ini. Terima Kasih.