Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 7)

adminYang Nulis Si ALvin ALvyo

 5 DAYS BEFORE DEADLINE


"Tidak, aku tidak bisa," pemuda itu mendorong tubuhnya bangkit. Nafasnya tersengal, keringat mengucur di sekujur permukaan kulitnya. Menutupi kedua wajahnya dengan talapak tangan, ekspresinya menggambarkan bahwa suatu perasaan galau berkecamuk.

"Dio?" gadis di atas sofa berbisik lirih.
Kepasrahan yang menyelimutinya belasan menit lalu membuat air matanya menitik keluar. Berusaha menutupi ketelanjangannya, Rosa mengangkat tubuhnya.

Si pemuda tak mengatakan apapun.
Sikapnya diam bagai batu.

Sebuah sentuhan telapak tangannya di punggung Dio, Rosa merasakan tubuh pemuda itu bergetar.
Helaan demi helaan nafas terdengar kemudian.

"Kamu kenapa, Dio?" Tiba-tiba, pemuda itu melepas tangannya, menepis sentuhan di tubuh belakangnya.
Kepalanya tertoleh. Rosa terhenyak saat melihat ada air mata di situ.

"Jangan," desis Dio, nadanya berat dan dalam.

"Dio, kamu kenapa?" bisik Rosa gelisah.

Pemuda di depannya bergesar menjauh. Pandangannya beralih ke lantai. Rambut-rambut yang semula lengket di lehernya, jatuh membentuk tirai menutupi wajahnya. Rosa tak berani mendekat. Tak berani menyentuh lagi.

"Aku," Dio berbisik, "aku sudah membuat dosa."

Alis si gadis berkerut.

Ia diam, menunggu kelanjutan dari si pemuda.

Dio menoleh, menatap Rosa dengan matanya yang merah. Mereka saling bertatapan. Sejuta kata mengalir tanpa bisa dimengerti.

Dio mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya di pipi gadis di depannya. Rosa memejamkan mata. Ia bisa menangkap satu kesedihan disitu. Air mata jatuh lagi.

"Ros, aku sudah berdosa padamu," pemuda itu berbisik lagi.

Hati Rosa bergetar. Sedari awal ia sudah tegang saat Dio benar-benar mengajaknya ke rumah pemuda itu. Ia kemudian tak juga mengerti, mengapa ia bisa terlena seperti itu saat Dio memeluk dan menciuminya.
Ia tak mengerti, mengapa ia bisa begitu pasrah saat pemuda itu menelanjanginya, menyentuh semua bagian tubuhnya.

Lama Rosa memejamkan mata.

Kalau dosa itu yang dimaksudkannya, maka Rosa bisa bernafas lega.

Karena dosa itu belum terlalu dalam. Belum sempat terjadi apa-apa.

Gadis itu menggerakkan kepalanya. Dengan memejamkan mata, ia mengecup telapak tangan si pemuda.

"Aku tahu, Dio," bisiknya lirih.

"Kamu tidak tahu," Dio mendesis.

Rosa membuka mata, menatap pemuda itu heran. Dio menarik telapak tangannya, meraih selembar kaus yang tergeletak di lantai, lalu memberikannya pada Rosa.

Sebuah senyum di wajah pemuda itu saat ia berbisik, "Kamu pakailah."

Rosa membalas senyuman itu, mengambil baju yang disodorkan, lalu memeluk baju itu di depan dadanya.

Dingin sekali di dalam ruang tamu itu. Di tengah gelap, kesunyian datang lagi.

Dio memiringkan tubuhnya dan meletakkan sisi tubuhnya di atas kedua paha telanjang si gadis.

Rosa mengulurkan jemarinya untuk membelai rambut ikal si pemuda. Benak gadis itu melayang-layang.

Betapa ia mencintai sosok satu ini. Sekarang tambah satu point yang meyakinkannya.

Pemuda itu tak berniat sama sekali untuk memilikinya secara fisik. Pasti itulah sebab mengapa ia menghentikan semua kenikmatan khayal tadi.

 Pemuda ini, batin si gadis, tahu kapan harus berhenti.

"Ros?" si pemuda memanggil namanya, Rosa membuka matanya yang sempat terpejam saat kesunyian melintas tadi.

"Hmm?" desahnya dengan nada bertanya.

"Aku mempermainkanmu. Kamu sadar itu?" Jantung Rosa seolah berhenti berdegup. Sisiran jemarinya di rambut si pemuda terhenti. Ia seolah terperangkap dalam suatu tanda tanya besar yang mengerikan.

"Apa maksudmu?" bisik gadis itu. Nada suaranya bergetar ketakutan.

Masih di atas paha telanjang si gadis, Dio memiringkan kepala, mengecup kulit yang putih bersih itu. Lalu ia menghela nafasnya dalam-dalam.

"Aku memang berniat mempermainkanmu. Hanya saja, aku merasa kamu terlalu berharga untuk kupermainkan."

Rosa memejamkan matanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya saat itu. Air matanya mengalir ke pipi.

"Aku tak mengerti, Dio," bisiknya sendu, "aku tak mengerti."

Dio mendorong tubuhnya ke dalam posisi duduk. Kepalanya tertoleh, menatap wajah gadis di sampingnya. Senyum mengembang di wajah pemuda itu.

"Kamu tak harus mengerti," bisiknya kemudian, sebelum membungkukkan tubuh, memunguti pakaiannya yang berserakan.

Rosa tak berkata apapun, memejamkan mata, menggigit bagian bawah bibirnya, membiarkan keheningan mengiringi air matanya yang mengalir. Ia bisa merasakan saat pemuda itu bergerak, mengenakan pakaian, lalu bangkit berdiri. Ia tak mendengar dan merasakan apa-apa lagi.

Khawatir, Rosa membuka matanya. Dio ada di samping wajahnya. Pemuda itu berjongkok, menatapnya dengan senyum.

"Dio...," Rosa memanggil nama pemuda itu lirih. Sebuah telunjuk menempel di bibir si gadis.

"Ssshh," bisik Dio, "kamu pakai bajumu?" Rosa tersenyum.
Lega.

Di mata pemuda itu masih ada kehangatan.

Tiada kata-kata dalam perjalanan. Tidak ada canda, sentuhan, bahkan saling pandang.

Mereka tenggelam dalam suatu situasi yang menghanyutkan. Lampu-lampu kendaraan berkelebat lalu lalang. Lantunan musik slow dari radio memberikan kesan dramatis yang menghipnotis.

Sepuluh, dua puluh, empat puluh menit berlalu sudah. Masih dalam keheningan yang sama. Dio akhirnya menghentikan mobilnya di depan Asrama Puteri.

Titik air hujan terdengar mengetuk atap mobil. Lima belas menit berlalu sia-sia. Hujan mulai turun lebih deras.

"Kamu tidak mau turun, Ros?"

Rosa menoleh, melihat pemuda itu tengah menatapnya. Rosa menggeleng.

"Aku tidak mau turun," katanya setengah berbisik.
Dio tersenyum.

"Karena hujan, atau karena masih ingin berduaan denganku?"
Rosa balas tersenyum, "Aku ingin berduaan denganmu."

Tangan si pemuda terulur. Dengan telunjuknya Dio menelusuri garis tengah wajah si gadis.
Dari kening, ke tulang hidung, bibir lalu dagu.

Rosa memejamkan mata. Entah mengapa, dalam hati gadis itu terbersit sebuah ketakutan, ketakutan saat memikirkan kemungkinan bahwa pemuda itu akan meninggalkannya.

"Mau berhujan-hujan?" mendadak Dio berkata.

Rosa membuka matanya, menatap pemuda itu dengan rasa heran. Ia melihat cengiran di wajah Dio. Sebuah cengiran yang nakal.

Rosa tersenyum dan mengangguk.

Sambil tertawa, Dio bergerak ke samping, membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Pemuda itu mengitari mobil, untuk sesaat kemudian membuka pintu yang lain. Rosa memekik saat hujan membasahi rambutnya.
Dio menarik lengan gadis itu, berdua mereka memejamkan mata dan tertawa, menikmati air hujan yang membasahi tubuh mereka.

Dalam tawanya, Rosa merasa pemuda itu menarik tubuhnya dalam dekapan. Mereka berpelukan di samping mobil. Suara guntur menggelegar di kejauhan, tapi Rosa tidak takut. Ia merasa nyaman dan hangat.
Satu lagi kilat cahaya, yang disusul gelegar. Dio melepaskan pelukannya, dengan senyum tersungging menarik lengan si gadis melangkah menuju teras Asrama Puteri. Rosa menyeka air di wajahnya dengan tangan. Air sudah tak lagi mengguyur.

Saat gadis itu membuka mata, ia sudah tak menyadari kehadiran si pemuda di sisinya. Ketakutan itu datang lagi.

Dengan pandangan mata gelisah, Rosa mencari-cari sosoknya di balik tirai hujan.

"Dio," serunya saat menemukan pemuda itu berdiri di samping lampu jalan, di luar pagar.

"Jangan kemari!" ia mendengar pemuda itu berseru, saat ia hendak melangkah keluar teras.
Dengan bingung, Rosa memandang ke arah sosok itu. Sosok yang tanpa berkata apapun, membalikkan tubuh dan berlari.

"Dio!" Rosa menjerit, menyadari ketakutannya berubah menjadi kenyataan.

Ia berlari secepat mungkin. Terjatuh di rerumputan, beberapa meter di depan teras. Lututnya sakit, tapi ia mencoba untuk berdiri. Saat itulah matanya menangkap kelebat mobil yang begitu dikenalnya.

Rosa jatuh terduduk di atas rerumputan. Matanya menatap nanar. Air hujan mengguyur, angin membuat setiap tetes seolah menamparnya. Satu kilat cahaya, satu lagi gelegar guntur.

 Rosa meraung.
Ia menangis.
Ia terluka.
Meratap.

"Dio, aku mencintaimu.”
"Aku yakin kau juga demikian.
Mengapa? Mengapa?"
Bahkan sampai sepuluh menit ia meratap, gadis itu masih meyakini bahwa si pemuda meninggalkannya karena sebuah perasaan bersalah.

Di belahan kota yang lain, sebatang Marlboro dinyalakan. Sang iblis sendiri, terkekeh, saat menghembuskan asap dari ujung bibirnya.
Sekarang tinggal menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak ada perasaan bersalah. Tak ada sesal. Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam.

Ada noda darah di ruangan gelap yang harus dibersihkan.



Jika sobat merasa artikel Bermain Api Atau Api yang Bermain? (CHAPTER 7) ini bermanfaat, silahkan Copas artikel ini, tetapi jangan lupa untuk mencantumkan link sumbernya seperti ini : Source:http://alvinarea.blogspot.com/2011/07/bermain-api-atau-api-yang-bermain_14.html.Saya lebih berterimakasih lagi jika sobat mau mencantumkan link hidup seperti ini : Source: http://alvinarea.blogspot.com/2011/07/bermain-api-atau-api-yang-bermain_14.html.Mohon dimengerti agar maraknya copas tanpa link sumber mereda, terima kasih.

Artikel Menarik Lain!

0 komentar

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar apa saja yang terkait pada artikel ini. Terima Kasih.